Cari Blog Ini

Sabtu, 12 September 2020

PENGARUH KETUNTASAN MOTORIK TERHADAP KEMAMPUAN BELAJAR

Alhamdulillah, tunai satu agenda belajar bersama Bunda Ani Christina. Beliau adalah penulis dari buku TUNTAS MOTORIK INVESTASI SEPANJANG HAYAT. Terkait buku tersebut sudah pernah dibahas disini. 


Nah, kali ini ingin sedikit membuat resume hasil belajar ala Bunda Asma. Tentang apaan?
 
Kerterkaitan kemampuan motorik dan kesulitan belajar. Karena selama sesi kulwap ( kuliah whatsapp ) berlangsung pertanyaan yang mengangkat permasalah ini terus menerus ditanyakan. 

Seperti, anak yang susah konsetrasi ketika belajar, adapula anak yang cepat bosan, menulis masih sering terbalik antara b dan d, malas membaca maupun menulis dan hal serupa lainnya.

Nah tidak berpanjang lebar ya kawan, sebelum masuk pembahasan inti. Ada baiknya kita kenalan dulu dengan "Apa itu motorik?" 



Motorik adalah sistem tubuh yang mengendalikan gerakan melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otak, otot dan tulang. Perkembangan motorik biasanya dibagi lagi menjadi perkembangan motorik kasar dan halus. 

Motorik kasar merupakan gerakan fisik yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh dengan menggunakan otot besar, pada sebagian atau keseluruhan anggota tubuh.
Contoh : berjalan, berlari, melompat dsb 

Sedangkan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilam fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. 
Contohnya, menggambar,menulis, memotong, menyusun puzzle atau balok sesuai bentuknya, dsb.


Kemampuan motorik ini ternyata erat kaitannya dengan kemampuan konsentrasi pada anak. Inilah yang menjadi benang merah hubungan tuntas motorik dengan kemampuan belajar anak. 
Baik, tidak panjang lebar mari kita masuk sesi inti. 
Ada tiga hal yang akan kita coba bahas secara runut. Yakni; 

Pertama, study case yang sering muncul tentang kesulitan belajar ini mulai terlihat pada anak di usia sekolah yakni diatas 6 tahun. Dimana anak mulai ada di bangku sekolah dasar. 


Seharusnya anak sudah tuntas motorik sebelum usia delapan tahun. Jika ada masalah di atas usia tersebut agak sulit untuk melakukan stimulasi secara mandiri. Namun jangan berkecil hati, yang bisa kita lakukan adalah treatmen sisa motorik yang belum tuntas dan olahraga rutin. Serta telusuri lebih dalam sebab-sebab lainnya. 

Kedua, permasalahan yang sering muncul adalah :
a) menulis huruf terbalik, misal b dan d
b) kesulitan membaca dan menulis
c) mudah capek jika belajar, khususnya membaca dan menulis
d) rendahnya tingkat konsentrasi saat belajar

Ketiga, pembahasan. Berupa ulasan singkat atas permasalahan yang sering terjadi. Dasar masalah belajar adalah konsentrasi. Menurut Bu Ani yang telah dijabarkan pula dalam bukunya, beliau memaparkan bahwa ;

"Konsentrasi adalah aset terbesar dan paling penting dari ketuntasan motorik" 

Anak yang kesulitan dalam berkonsentrasi, akan mengalami kesulitan dalam proses belajar hal baru. Kurang optimalnya konsentrasi belajar anak memang akan menjadi salah satu hutang yang akan kita bayar ketika kurang memperhatikan perkembangan sensorik motorik di usia pra sekolah.

Mengapa bisa begitu?
Ketika sistem sensorik dan motorik anak matang, maka anak akan nyaman dengan tubuhnya. Ketika anak nyaman dengan tubuh, maka akan mudah fokus beraktivitas. Sebaliknya, ketika sistem sensorik motorik belum matang, tubuh anak menjadi tidak nyaman, makanya jadi cenderung umek, sehingga kemudian jadi sulit fokus beraktivitas. Aktivitas motorik adalah media yg efektif untuk melatih atensi dan konsentrasi anak secara bertingkat.

Inilah dasar keterkaitan antara kesulitan belajar akibat dari rendahnya tingkat konsentrasi merupakan hasil ketidaktuntasan motorik anak. 

Selanjutnya, kasus menulis huruf terbalik. Bu Ani selaku praktisi pendidikan dan parenting ini menyebutkan ;

Persoalan mendasar tentang ini adalah kesalahan kita, langsung melatih membaca dan menulis, tanpa melakukan upaya mempersiapkan anak untuk membaca dan menulis. Dalam kajian motorik, ada yang dinamakan PRE READING dan PRE WRITING

Membaca adalah sebuah keterampilan kompleks, dan beberapa kemampuan harus dimiliki anak sebelum memulai belajar membaca. 


Kita mengenal istilah Pre-Reading Skill atau keterampilan pra-membaca, yaitu keterampilan yang dibutuhkan anak sebelum mereka belajar membaca. Membantu mengembangkan keterampilan pra-membaca adalah salah satu upaya terbaik yang dapat dilakukan orang tua untuk mempersiapkan anak mereka membaca. Membaca adalah perpaduan proses kognitif dan proses sensorik-motorik.

Kemampuan mengenali simbol huruf, yang di dalamnya terhadapat pemahaman bentuk dan arah dan melakukan asosiasi pembunyian masing-masing simbol huruf. 

Menulis juga proses yang sama kompleksnya bagi anak-anak. Anak-anak menggunakan tangan mereka untuk melakukan eksplorasi lingkungan di sekitar mereka. Pengembangan keterampilan tangan dan keterampilan pra-menulis lainnya merupakan upaya untuk persiapan menulis.

Kemampuan persiapan menulis, biasa disebut prewriting skill atau kemampuan pra-menulis, akan mencakup beberapa kemampuan, seperti menata sikap duduk, stabilitas sendi pada area bahu-siku-pergelangan tangan, kekuatan otot tangan, kekuatan dan kontrol pegangan pensil dengan jari, dan penggunaan tangan dominan. Latihan Sikap Duduk, Latihan Stabilitas Sendi dan Kekuatan Otot, Latihan Posisi Pegangan Pensil (Grasp). 

Beliau menambahkan, latihan motorik yang diklaim mengurangi gejala ini adalah latihan motorik body awarness dan patial awarness.

Dalam buku Tuntas Motorik Investasi Sepanjang Hayat dibahas detail bahwa anak yang tidak bisa membedakan huruf terjadi karena dia belum punya 'persepsi arah' arah yang matang. Persepsi arah adalah bagian dari kemampuan visual anak. Apa itu kanan-kiri, mana itu atas-bawah. 

Maka, yang harus digarap pada anak-anak ini adalah PERSEPSI-nya, bukam latihan pengucapan atau penulisannya. 

Sekilas tentang pengalaman Bu Ani. Beliau pernah menangani salah satu anak yang sulit membaca ternyata juga mengalami fobia ketinggian. Beberapa anak dengan fobia ketinggian akhirnya punya masalah dengan keseimbangan tubuh dan dalam kondisi ini kemampuan persepsi visual ikut terimbas kurang optimal.

Solusi yang dilakukan dalam kasus di atas adalah terapi keseimbangan pada anak dengan berbagai gerakan keseimbangan. Ketika keseimbangan tubuh lebih baik ternyata proses belajar membaca juga berjalan lebih lancar. 

Alhamdulillah, itu ringkasan kulwap seputar ketuntasan motorik yang saya ikuti. Dipadukan dengan isi buku Ketuntasan Motorik Investasi Sepanjang Hayat yang coba saya baca kembali. 

Pamungkas, hikmahnya bahwa betapa pentingnya untuk menuntaskan kemampuan motorik pada anak khususnya saat usia pra sekolah. Motorik ini sepertinya memang sesuatu yang kelihatan remeh, tapi ternyata banyak manfaat untuk masa depan anak. 

Memberikan stimulasi motorik optimal adalah investasi pembentukan dasar anak belajar. Anak yang bisa belajar dengan baik adalah dasar untuk bertahan hidup.

Demikian sedikit resume yang coba saya tulis kembali dengan sedikit ulasan dari buku juga. 
Nah, parents sekarang jadi tahukan. Bagaimana pengaruh ketuntasan motorik dengan kemampuan belajar anak? 

The last but not the least, ada pertanyaan unik pula dari peserta saat itu. 

Jika anak dirasa sudah tuntas motoriknya. Tapi tetap mengalami kesulitan belajar atau motivasi belajarnya rendah? 

Bu Ani sedikit menyingung juga, kesulitan membaca dan menulis, bisa juga disebabkan kelemahan kognitif. Oleh karena itu, anak-anak seperti ini akan butuh evaluasi kognitif, ketika merasa semua tahapan sensorik motoric sudah tuntas terlampaui. Jika merasa belum yakin, dengan sensorik motorik, ya bisa dicoba dilatih 6 bulan, baru evaluasi kognitif. Selain itu, bisa juga karena kurangnya motivasi belajar. Banyak aspek terkait motivasi. 

Done!
Alhamdulillah, tuntas!
Tetap semangat ya Ayah Bunda.
Penting sebaga pengingat untuk orang tua yang anaknya masih kecil harus semangat untuk terus melatih dan stimulasi motoriknya. 



Fight!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar