Minggu, 01 Februari 2015

Barokah itu tentang Taat

Bismillah,..


Barokah itu , " Albarokatu tuziidukum fi thoah "
~Barokah menambah taatmu kepada Alloh....
Barokah bukanlah cukup dan mencukupi saja,
tapi barokah ialah ketaatanmu kepada Alloh dengan segala keadaan yang ada,
baik melimpah atau sebaliknya.
 
...atas semua yang terjadi dalam hidupmu.
Sikapilah dengan ikhtiar terbaik yang kamu lakukan.
Serta pertanggungjawaban terbaik yang bisa kamu persiapkan.
 
 
menjemput mentari yang meninggi
Datangnya sebuah keberkahan bukanlah datangnya kemudahan dalam menjalani sepanjang perjalanan kehidupan. Namun saat kau jalani langkah perjalanan itu meambah kedekatanmu kepadaNya.Kepasrahanmu kepada ketentuanNya. Disnaalah letak barokah.
 
Kadang kita terlalu berfikir,
saat melakukan sesuatu ternyata begitu sulit dijalani bahkan cenderung mengalami banyak rintangan.
Mudahnya kita mengatakan bahwa keadaan itu tidaklah barokah.
" Gagal Paham "!
Ya..gagal paham.
Bagaimana tidak? saat dalam kondisi sulit bukan berarti Alloh tak ridho dengan apa yang kita lakukan.
Bahkan bias jadi kondisi sulit inilah yang akan mengantar banyak keberkahan dalam kehidupanmu.
Saat-saat sulit itulah yang mengantarmu mendekat sedekat-dekatnya. Berpasrah sepasrah-pasrahnya kepada Dia.Alloh semata.
Namun sayangnya, sifat manusia yang senang mengeluh itulah yang membuat kesulitan-kesulitan itu tidak menjadi kebarokahannya. Semakin sulit maka semakin mengeluh. Bahkan semakin menjauh kepadaNya, berprasangkalah ia bahwa Alloh tak adil kepada makhlukNya. Naudzubillah.
Semoga kita senantiasa bias mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang hilir mudik dalam kehidupan kita.
 
Menukil beberapa makna barokah dari beberapa pendapat sebagai berikut :
 
Barokah, dalam bahasa Aa'Gym adalah kepekaan untk bersikap benar menghadapi masalah.
Barokah, dalam kekata Ibnu Qoyyim adalah semakin dekat kita pada Rabb, semakin akrabnya kita dengan Alloh.
Barokah, dalam umpama Umar bin Khaththab adalah dua kendaraan yang ia tak peduli harus menunggang yang mana : sabr dan syukr.
Barokah, dalam pujian Sang Nabi adalah keajaiban !
 
" Menakjubkan sungguh urusan orang yang beriman. Segala perkaranya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali pada orang yang beriman. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ditimpa musibah dia bersabar, dan sabar itu baik baginya." ( Hr Abu Dawud dan Tirmidzi )
 
Artinya, bukan berarti keberkahan itu apakah senantis adlam jalan keskuaran kawan? Tidak.
Dalam jalan keberkahan ada pula jalan - jalan kemudahan. Jika kau temui jalan itu, maka bergembiralah. Dan titik kegembiraanmu itu bukan sebuah bentuk kecongkakan melainkan sebuah bentuk syukur. Maka disanalah kau temukan kebarokahan.
Intinya, barokah adalah bertambahanya kebaikan dalam setiap kejadian yang kita alami waktu demi waktu.
 
Hidup di dunia hanya 2 menit.
Waktu yang disediakan tidak lebih banyak dari amanah yang diemban.
Jika bukan sebuah kaborakan hidup.
Maka apalgi yang kita cari?
Jika sudah siap dengan panasnya nerak beserta rentetan siksaannya.
Silahkan melakukan apa yang kamu suka.
Tapi jika dalam hatimu terbersit keinginan menjemput surge.
Maka bersegrahlah menjalani hidup penuh barokah.
 
 
#Sebuah tulisan yang merupakan kmulan renungan dari sang penulis ditambah bumbu-bumbu refrensi.Semoga bermanfaat! :D
 
~3ha. 

Unikmu Beda

...
Uniknya dia berbeda, setiap geriknya selalu menggelitik hati yg melihatnya.

Dia...
13 tahun lebih bahkan keterpautan usia kami.  Tapi dia telah menjadi Guru kehidupanku.. tentang sikapnya, sifatnya,. Meski gaya bicara kami hampir sama. Bicara pelan namun volume seakan maksimal. Kadang itu jadi kharakter, tapi gak semua orang mau menerima. Termasuk saya sendiri.  Melihatnya serasa bercermin pada masa 13 tahun silam.  Di masa seusianya, dia bisa menempatkan diri.
Bahkan telah tahu makna peduli.
Tak banyak bicara aib orang lain.
Sulit baginya mengungkap hal - hal buruk orang di sekitarnya.  Pun kepada orang terdekatnya. Ibu.
Diusianya kini, ia dihadapkan pada sbeuah cerita hidup yang mengagumkan. Namun ia tak pernah mengeluh, bersikap santai bahkan ia meikmati mas akanka-kanaknya. Dan aku masih tak percaya, belajar dan menemukan dari siapakah sosok ayah yang hadir dalam dirinya?
Hingga detik ini, kekagumanku padanya semakin bertambah.  Celetukan-celetukkannya membuatku tergelitik. Polos,apa adanya.

Ceria, wajahnya senantiasa dilumuri senyum. Hingga kini, aku masih suka diam - diam mengamati nya. Cara diamnya,senyumnya, tawanya bahkan lirikan matanya yang membuat mata kami bertemu pandang. Sikapnya yang kadang belagu sebenarnya memnyimpan ketawadhu'an kepada orang yang lebih tua.

Penyematan apresiasi peningkatan terbaik kepada Qowiy
Ah gila rasanya,
Aku jatuh Hati pada si pemuda ini.
Karena begitu banyak pelajaran yang bisa kuambil menjadi bagian pelajaran hidupku.
Gaya memimpinnya.
Cara dia menyelesaikan masalah bersama teman sebanyanya.  Dia begitu sportif, meski kadang kami berbangku hantam dengan argumen masing -masing.  Namun,  tetap berlaku hukum.
Yang  dewasa ' tua. red 'jauh lebih mudah  menang  dari yg muda.

Sebagai seorang guru,  berat rasanya menyandang title itu.  Dia tahu batasan - batasan bagaimana menghormatiku. Melaksankan perintah serta laranganku.  Meski kadang terlihat cuek, aku tahu.  Dia menyimpan dalam dalam setiap nasehatku.

Entahlah...
Alloh menakdirkan kita untuk bertemu, kelak saat perpisahan sementara itu tiba. Apakah sudi kau sapa aku?  Bahwa kita pernah melukis cerita bersama...: )
Diantara senyum,  hatiku punya tempat istimewa untukmu.. anakku. Qowiyyun Amin.
Jadilah Pemimpin sebagaimana namamu yang telah tersirat dalam kitab suci itu. Al Qur'an.

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".
Qs Al Qashas : 26


Sabtu, 13 Desember 2014

Sebatas Nama ( part 2 )

...,


" Mbak pamit dulu dhek " ucap Rana pelan memecah kelengangan antara mereka.
Hanya senyum terkulum yang terlihat di wajahnya. 

***

"Ran !!! "
Gadis berkerudung coklat itu menoleh.
"Please deh Ky, jangan buat aku mati mendadak karena suaramu " dengan waja pura- pura marah.
Perempuan yang dipanggil Kiky hanya melempa senyum acuh.
"Kayaknya kamu belum baca koran deh pagi ini Ran " ungkapnya ringan.
Rana masih sibuk dengan catatan - catatannya yang menumpuk berantakkan di meja kerjanya.
" Kali ini aku yakin deh, tulisanmu bakal jadi buku " timpalnya lagi.
Rana menghentikan aktifitasnya. Mengerutkan dahi tanda heran dan penasaran.
" Maksdmu? " tanyanya pada Kiky.
Yang ditanya mengangkat bahu meninggalkan wajah berkerut Rana yang tampak semakin kusut.
Pagi seakan tidak bersahabat dengannya, antara rasa penasaran, kesal dan marah yang tak tahu akan ia ungkapkan kepada siapa. Waktu serasa berjalan begitu lambat. Ruangan berukuran 3 x 4 meter tersebut menjadi sempit mendadak seakan - akan siap menghimpitnya. Ia letakkan kepala diatas dua tangan yang menopangnya. Lantunan istigfar mengalir di bibirnya yang sejak tadi pagi tak terisi sesuap makanan apapun juga.

" Katakan pada masalahmu, bahwa mereka terlalu lemah untuk membuatmu berduka dan menjauhkanmu dari rasa bersyukur pada Tuhanmu " suara berat itu terdengar jelas begitu dekat di telinganya.
Rana tersentak agak terkejut, wajah pucatnya tak bisa di sembunyikan oleh senyumnya yang dipaksakan.
" Pak,.." ekspesi gugup terlihat jelas diraut wajahnya yang semakin pucat di bawah lampu yang lupa ia matikan sejak tadi pagi.
" Hemat listrik" ucapnya singkat. Lalu pra itu menekan tombol saklar untuk mematikan lampu.
Senyum yang mash dpaksakan itu melekat di wajah Rana. Semakin lemas, sekujur tubuhnya keluar keringat dingin. Antara malu dan takut. Dia lirik jam tangan menunjukkan pukul 9 pagi.
"Ya Alloh, rasanya aku ingin bersimpuh padaMu " dalam hati ia ucapkan lalu bernajak mengambil air wudlu.

***
Gemericik air begitu menyegarkan. Wajah sayunya sedikit lebih  cerah namun tak bisa menutupi kegelisahan hatinya. Rana semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi padanya sepekan terakhir. Dia mulai terganggu dengan pikirannya sendiri. Sejak pertemuan itu. Sebuah pertemuan yang tak pernah ia duga, tak pernah ia harapkan. Pergi dan dating meninggalkan jejak yang begitu menyiksanya. Dia hampar sajadah panjang biru langit di ujung mushola tempat ia bekerja. Di setiap gerakan sholat, airnya meleleh tak terbendung. Setiap bibir tekatup ia memejamkan mata untuk memaknai air setiap apa yang ia baca. Hingga sjud teakhir, aliran airmatanya terus menganak sungai.

Duhai Dzat pemilik hati, penggenggam rasa ini.
Apakah gerangan yang terjadi pada hambaMu yang lemah ini.
Haruskah aku katakana jika benteng pertahanan yang selama ini roboh begitu saja.
Hanya dalam hitungan menit.
Sedang ku bangun agar kokoh bertahun - tahun.
Ku sibukkan diri tenggelam dalam aktifitas padat.
Tapi mengapa kini tak manjur lagi?

Rana terus meratap, bibirnya tak berhenti melantunkan penyesalan dan penghambaan yang lalai.

.....
Meski ku rapuh dalam langkah
Kadang tak setia kepadaMu
Namun cinta dalam jiwa hanyalah untukMu
 
Maafkanlah
Bila hati tak sempurna mencintaimu,
Dalam dada ku harap hanya diriMu yang bertahta.

" Sesungguhnya apa yang Alloh takdirkan untuk kita, tidak akan menjadi milik orang lain. "

Kalimat yang selalu terngiang di telinganya. Hingga detik ini, ia masih percaya bahwa  Perjuangan itu,, untuk menjadi yang istimewa di hadapanNya,, penuh airmata , penuh harap, penuh kejutan,, dan tak jarang ada senyum di sela-sela perjuangan itu, karena Dia telah hadirkan pertolonganNya didetik-detik tak terduga, disaat-saat yang tampaknya tak mungkin. Terimakash kepada Mu wahai pemilih takdir, karena setiap pertemuan dengan orang - orang sholih yang menguatkan aku dalam perjuangan untuk senantiasa istiqomah di jalanMu. Dunia seakan berhenti, waktupun mengikuti. Rana dilingkupi rasa penyesalan dengan jutaan hati penuh rasa salah yang menguasai hatinya. Hingga tak sadar bahwa ada sosok di balik tirai jendela mushola tempat ia bersimpuh  mengamati setiap gerak geriknya.


tobe continued...

 

Minggu, 07 September 2014

Sebatas Nama



Dua hari.
Dua hari lagi. Ribuan kilo akan membentang. Tak hanya berpisah darat, namun lautpun ikut andil membuat jarak keduanya. Kini dan entah berapa tahun kedepan.
Semua tersimpan begitu rapat tak tersamarkan. Sebatas nama yang hanya terlukis dalam goresan hati.
Kelak dan entah sampai kapan semua tertutup dengan rapi.
bersama rona merah senja 


"Mbak Rana!"
Gadis berkerudung biru itu menoleh. Kibaran angin sore itu tak ia biarkan. Dipegangnya erat ujung kerudung di belakang menahan terpaan angin senja soe itu.
Suara yang memanggil tersenyum puas saat yang dipanggil menoleh.
Beberapa menit keduanya saling tertegun mengamati.
Tak bergerak ataupun bergeming sedikitpun.
Gadis itu bernama Rana Pramitha. Gadis berkerudung lebar meski secara fisik dia terlihat sukuran anak SMA atau bahkan SMP.

"Mbak Rana masih ingat sama saya?" ucapnya berbinar.
Wajah manis dan teduhnya sangat akrab bagi Rana.
Gadis itu menundukkan pandangan.
"Assalamu'alaikum " Rana bersuara.
"Wa'alaikumsalam" jawab sang pria depannya tanpa agak salah tingkah dengan respon gadis di depannya itu.
"Kapan datang?" Rana mengalihkan pandangan ke arah senja.
"Sejak sepekan yang lalu Mbak." pria itupun mengalihkan pandangan yang sama ke arah Senja.
Ramanda Sumitra, nama lengkap pria yang berpostur sedang seukurannya. Dengan usia cukup muda, 25 tahun. Membuat penampilannya sedap dipandang sebagai pemuda yang sedang naik daun.
" Oo.." jawaban singkat Rana dalam lirih.
" Mbak, mash disini. Masih suka nuliskah?" tanyanya sopan.
" Iya.." senyum tersungging di wajah manis gadis itu..
Lanjutnya, " Setelah kepulanganmu dari Jepang. Mau rencana ngabdi dimana?"
Pria itu tersenyum lalu menjawab, " Alhamdulillah, aku langsung ngajar sebagai dosen tetap di kampus Mbak."
"Oo.." jawaban singkat itu meluncur lagi.
"Tidak ada yang berubah dari mbak, memandang senja, menghabis waktu berpulangnya siang menjemput malam.Dan.." kalimatnya terhenti dengan tatapan yang masih sama ke arah senja.
Rana menoleh  penasaran dengan kalimat Rama yang terhenti.
"Dan apa?" tanya Rana penasaran.
"Oo.." Jawab Rama sambil menoleh ke arah Rana dan keduanya tertawa.
" Dasar aneh!" Ranapun tak kuasa menahan kegeliaannya pada tingkah pria disampingnya.
Dua tahun waktu yang sangat singkat namun lama bagi yang menunggu. Masih terbayang bagaimana perasaannya saat melepas pria di sampingnya itu dua tahun yang lalu. Hari - harinya hanya berupa mimpi. Bahkan hingga kini. Saat pria itu nyata duduk di sampingnya. Gadis itu masih sama. Masih menutupnya dengan rapat.
" Aku tak sengaja berjalan lewat sini. Mengenang keindahan senja yang sering mbak ceritakan." jelas Rama bersemangat. " Aku rindu Indonesia dengan segala keindahannya , Mbak" lanjutnya.
Pria itu berkelakar banyak hal tentang negeri asing tempat ia belajar. Merasakan keindahan alam namun semuanya hanya rekayasa, berbeda dengan Indonesia yang sederhana namun natural. Penduduknya, budayanya, dan semuanya. Hingga setengah jam berlalu begitu cepat. Gadis itu masih mendengarkan dengan seksama, sesekali tersenyum.
"Mbak Rana, ingin lanjut juga kan ?" tanyanya tiba - tiba.
Rana hanya menjawab dengan senyum, kerudungnya yang dipermainkan oleh angin tak lagi ia hiraukan.
" Ah.. tapi harusnya mbak itu sekarang mikirnya bukan kesana deh" lanjutnya sambil senyum yang menyeringai keisengan.
Rana mengerutkan dahi. Sekali lagi, ditikam penasaran pada kalimat pria itu.
"Mbak Rana harusnya sudah menentukan untuk menerima siapa" senyumnya makin menyeringai. Masih sama dengan dua tahun yang lalu. Keusilannya, keisengannya dan gaya bicara yang membuat Rana berhasil penasaran.
Rana hanya tersenyum, kini ia angkat bicara. "Belum ada yang membuat aku jatuh cinta tanpa alasan dhek"
Keduanya saling bertatapan dan  saling terdiam.
Senja makin merangkak mengantar pulang siang berganti malam. Rona merah mulai terlihat gelap.

.....to be continue.

Senin, 01 September 2014

Waktu


Bismillah..
Ruang itu bernama waktu.
Berganti dan dipergilirkan sebagai sebuah keniscayaan akan takdir Tuhannya.
Menerima namun bukan pasrah.
Namun sebuah penerimaan yang baik atas apa yang ia miliki dan apa adanya.
Itulah syukur.

Malam berganti disambut pagi denagn sagala bentuk semangat yang merekah
Siang  berlalu dan malam datang.
Aadalah saat waktu untuk merebahkan badan yang lelah.
Mengurai kepenatan dan buaian dingin malam serta rayuan bulan yang sendu.

Waktu,.
Bisa menjadi benda tajam yang bisa menjadi bentuk yang beragam.
Bisa sangat berharga dan tak bernilai harganya.
Bisa pula menjadi pedang yang menikam bahkan membunuhmu.
Bisa jadi, ia sangat membosankan bagi ia yang menunggu.
 
yang paling jauh adalah masa lalu
Kali ini, aku untuk kesekian kalinya merasa sendiri.
Menyepi dalam keramaian.
Tak ada yang begitu indah untuk bisa dirasakan dalam kacamata hati.
Hanya fana.
Dimanakah harus ku katakan bawa aku sedang bosan.

Kemanakah aku berlari dan bersembuny di balik kebisingan yang penuh fatamorgana.
Aku, ingin pergi…
Mencari warna baru.
Izinkan aku melangkah wahati Tuhan pemilik takdir.
Sebuah langkah kaki yang tentu Engkau Ridhai.
Agar aku tak tersesat.
Aku masih memutuhkanmu .
Aku masih sangat mengharap pentunjukmu dalam setiap jejak langkah kakiku.
Karena aku hanya bergantung padaMu…
Alloh.

~3ha, 31 Agustus 2014.
…bersama senja berpulang.

Senin, 25 Agustus 2014

Melesatkan busur memanah bintang kesuksesan



Roda berputar sering di ibaratkan sebagai perjalanan kehidupan. Ada saat dimana kita akan berada di atas. Namun ada saat pula dimana akan dipergilirkan berada di posisi bawah. Sesuatu yang dipergilirkan itu ternyata keniscayaan. Dan adalah sebuah kepatutan bagi kita untuk mengoreksi diri dari apapun yang terjadi dalam hidup ini.  Menghadapai apa terjadi adalah dengan dua cara yaitu sabar dan syukur. Sebagaimana ungkapan Umar bin Khatab, diantara dua tunggangan itu adalah sabar dan syukur. Dan keduanya adalah baik. Subhanalloh, begitu pula iman. Bahwa iman itu terdiri dari dua bagian. Setengahnya adalah syukur dan sebagian yang lain adalah sabar. 
sukses adalah perjalanan

Betapa indah urusan kaum muslimin itu bahwa ketika diberi nikmat ia bersyukur dan ketika tertimpa ujian ia bersabar. Dua hal yang perlu menjadi batu pijakan yang kuat serta pemahaman yang matang dan bijaksana.  Namun sikap bijak dan bertumbuh dewasa itu adalah proses. Inilah yang sering terlewat bahwa usia tak selalu menentukan kedewasaan seseorang meski seharusnya , sekali lagi seharusnya semakin berumur seseorang harusnya semakin dewasa. Selayaknya ilmu padi semakin menguning semakin merunduk. Namun lain hal, manusia tetaplah manusia. Bahwa ia memiliki ego bahkan kharakter yang tak mudah untuk dirubah. 
Namun tidak ada yang tak mugkin di dunia ini ketika alloh berkehendak. Dengan niat yang lurus dan kemauan yang kuat insya Alloh akan ada jalan. Karena hal inilah yang menjadi poin dimana kita bisa merubah cara pandang kita terhadap sesuatu. Seakan membelok arah mata angin, mungkin sulit namun semua dilakukan dengan usaha yang keras serta doa yang tiada henti. Karena yakinlah masih ada cara untuk merubah takdir yang belum kering tintanya yaitu dengan doa. Titik balik seperti inilah yang dibutuhkan oleh setiap manusia yang ingin jauh melesat, menembakkan pelurunya ke langit dan meraih bintang impiannya. Terlihat tak mungkin namun dengan segala keyakinan pada Alloh tak ada seuatu yang mustahil saat yang menguasai isi Arsy ini mengatakan “Kun Fayakun”. Aku percaya Alloh Maha Segalanya!


 ~3ha, 25 Agustus 2014.
...di perempat abad rahmatMu untuk HaMim.

Rabu, 20 Agustus 2014

Arah Kapal Berlayar

Bismillah,..
Rabu, 20 Agustus 2014.

" Kita semua dilahirkan untuk sebuah alasan, namun tidak semua orang bisa menemukannya. Kesuksesan dalam hidup tidak ada hubungannya dg apa yg kau peroleh dalam hidup atau capai untuk diri sendiri. Kesuksesan adalah tentang apa yg kau lakukan bagi orang lain "~Danny Thomas.
Kalimat ini cukup menjadi teguran tentang apa yang tersirat dalam tujuan penciptaan manuisa di bumi. Bahwa Alloh menciptakan manusia dangan dua tujuan. sebagai hamba Alloh dan khalifah di muka bumi ini. Di usia yang menjelang seperempat abad ini, ada banyak sekali PR pada diri pribadi mauemen pun orang - orang sekitar yang belum tertunai. Masih banyak hal yang perlu diperbaiki oleh diri ini. Sikap dan tingkah laku. Bahkan sikap yang masih jauh dikatakan dewasa. Seharusnya laju usia sebanding dengan kedewasaan, namun ternyata tidak demikian. Sebagaimana mengutip dalam sebuah kalimat, bertambahnya usia bukan berarti kau paham segalanya ( Dee, Jembatan Zaman ).

Setiap anak memang tak bisa menentukan dari rahim siapa mereka terlahir. Namun, beranjak bertambah usia maka sudah menjadi pilihannya. Bagaimanakah jalan kehidupannya selanjutnya. sejauh kapal berlayar, kapalku masih di tepian. Mimpiku sempat tenggelam di beberapa waktu yang lalu. Namun, Alloh selalu membuka pintu lain untuk menjadi jalan kutemukan mimpiku yang karam bahkan nyaris tak bersisa. Kini layarku mulai terbuka, ku arahkan kapal dalam sebuah arah pelayaran yang pasti. Mimpi itu harus ku kejar. Meski aku tahu, pelayaran tanpa arah mungkin alternatif pengisi liburan, namun cara yang buruk untuk mengisi hidup kita. Aku punya arah kemana layarku mengembang. Meski terdengar terlambat dan perjalanan semakin sulit. Itu artinya  komitmenku harus semakin kuat. Aku ingin menjadi seperti apa yang pernah Whit Hobbs tuliskan, " Siapa kita sekarang, di manapun kita berada, berapa pun usia kita sekarang, sukses adalah bangun tidur di suatu pagi dan meloncat dari tempat tidur karena ada sesuatu di luar sana yang sangat senang kita kerjakan, yang kita yakini dan kerjakan dengan baik, sesuatu yang lebih besar daripada diri kita, dan kita sabar melakukannya hari ini. "

Impian adalah idealisme tertinggi kita , serta memuat kita percaya akan adanya takdir. 

Berharap terbaik dalam setiap hembusan nafas serta langkah kaki ini berjalan. Terjaganya hati atas niat dan ketaatan yang istiqomah. Jika masih ada mimpi atau cita  - cita yang belum tercapai. Aku yakin Alloh sedang menyimpannya dan memeluk erat mimpi itu. Hingga waktu yang tepat DIA memberikannya padaku.  Karena doa itu masih teruntai untuk menembus langit di setiap sepertiga malamku. aku berfikir Alloh sedang ingin menjadikanku pantas dan siap menerima mimpi dan cita - cita itu kelak. Sehingga ketika ada tantangan yang lebih besar menghadap maka aku telah jauh lebih siap. Aamiin.



Minggu, 29 Juni 2014

Ramadhan 1435 H

Bismillah

1 Ramadhan 1435 H / 29 Juni 2014

Hamim in Target Ramadhan 1435 H

...
Dalam ketaatan ku menunggu mu
Meski tak kuasa ku tahan rinduku pada bulan penuh mulia,
Terlewat Rajab berjumpa dengan bulan penuh pesona : Sya'ban.

Kini
ku jumpai kau pun dalam ketaatan,
Ramadhan 1435 H.
Berharap penuh Berkah.
Bismillah....